Jl. KH. Biysri Mustofa No.18 Bumirestu, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, 35594.
Logo Pesantren

Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Roudlotussolihin

Media Informasi & Dakwah Resmi

Beranda Tentang Kami Program & PPDB
Breaking News Pesantren sebagai Subkultur: Antara Mempertahankan Ruh Tradisi dan Menjawab Tantangan Zaman Pesantren Saat Ini, Di Antara Persimpangan Modernitas dan Gaya Hidup Lentera Kedisiplinan dan Keistiqomahan: Mengenal Lebih Dekat Teladan KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi., M.Hi. 6 Karakter Utama Santri YPPP Roudlotussolihin Filosofi "AKIK" Bekti Santri Menghadapi Zaman
Hero Image
Artikel

Pesantren sebagai Subkultur: Antara Mempertahankan Ruh Tradisi dan Menjawab Tantangan Zaman

Oleh: Khuwaidimul Ma'had RoudlotussolihinPesantren sebagai ruang budaya dan peradabanPesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam yang memiliki posisi unik dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan yang mentransmisikan ilmu keagamaan, melainkan sebuah subkultur yang memiliki sistem nilai, tradisi, pola hubungan sosial, tata kehidupan, serta pandangan hidup yang khas. Keberadaan pesantren membentuk ekosistem sosial yang hidup, di mana pendidikan, ibadah, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat berjalan secara terpadu.Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman karena memiliki kemampuan menjaga nilai-nilai dasar sekaligus melakukan penyesuaian terhadap dinamika sosial. Ketahanan inilah yang menjadikan pesantren tetap relevan dari masa ke masa.Tantangan zaman yang semakin kompleksMemasuki era digital, kemampuan pesantren untuk mempertahankan eksistensinya kembali diuji. Perkembangan teknologi, globalisasi, perubahan ekonomi, gaya hidup masyarakat, tuntutan profesionalisme, serta meningkatnya ekspektasi terhadap mutu pendidikan telah menghadirkan tantangan baru.Dalam merespons perubahan tersebut, pesantren menempuh jalan yang beragam. Ada yang memilih mempertahankan tradisi secara ketat, ada yang melakukan modernisasi secara agresif, dan ada pula yang berusaha mencari titik keseimbangan di antara keduanya.Pesantren konservatif: keteguhan atau ketertutupan?Sebagian pesantren memilih mempertahankan pola pendidikan dan kehidupan yang diwariskan para ulama terdahulu. Tradisi dipandang sebagai identitas yang harus dijaga, mulai dari metode pengajaran, kehidupan santri, hingga hubungan erat antara kiai dan santri.Sikap ini memiliki kekuatan yang besar. Pesantren mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam, menanamkan kesederhanaan, memperkuat ukhuwah, serta membentuk karakter melalui kehidupan kolektif. Di tengah masyarakat yang semakin individualistik, nilai-nilai tersebut justru menjadi kekayaan yang tidak ternilai.Namun, persoalan muncul ketika pelestarian tradisi berubah menjadi penolakan terhadap perubahan. Dunia terus berkembang, sementara sistem pendidikan dan tata kelola pesantren tidak mengalami penyesuaian yang memadai. Akibatnya, pesantren dapat kehilangan daya respons terhadap kebutuhan masyarakat kontemporer.Karena itu, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukan seluruh bentuk masa lalu. Yang harus dijaga adalah ruh, nilai, dan tujuan pendidikan pesantren, sedangkan metode serta sarana dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman.Modernisasi dan ancaman hilangnya ruh kepesantrenanDi sisi lain, banyak pesantren melakukan transformasi melalui pembangunan fasilitas modern, penerapan manajemen profesional, digitalisasi administrasi, penguasaan bahasa asing, hingga integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kurikulum.Modernisasi pada hakikatnya bukan sesuatu yang harus ditolak. Santri masa kini membutuhkan bekal ilmu agama sekaligus kompetensi untuk menghadapi realitas sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.Persoalan muncul ketika modernisasi tidak lagi menjadi alat, melainkan berubah menjadi tujuan. Ketika citra, kemewahan fasilitas, eksklusivitas, dan kemampuan ekonomi menjadi ukuran utama kualitas pesantren, lahirlah fenomena yang sering disebut sebagai pesantren VIP.Biaya pendidikan yang tinggi dan segmentasi berdasarkan kemampuan ekonomi berpotensi mengikis karakter pesantren yang sejak awal tumbuh bersama masyarakat. Padahal, kekuatan pesantren justru terletak pada kesederhanaan, kesetaraan, dan kehidupan bersama tanpa memandang latar belakang sosial.Menjaga keseimbangan: ruh tradisi, wajah masa depanPesantren tidak perlu memilih antara menjadi tradisional atau modern secara ekstrem. Yang dibutuhkan adalah transformasi yang berakar pada nilai. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dakwah, administrasi, dan pembelajaran. Manajemen profesional dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Fasilitas yang baik dapat menunjang kenyamanan santri.Namun, seluruh pembaruan tersebut harus tetap berpijak pada ruh kepesantrenan: keikhlasan, adab, tawadhu', kesederhanaan, ukhuwah, dan keberkahan ilmu. Sebab yang menjadikan pesantren berbeda bukan semata bangunannya, melainkan budaya yang hidup di dalamnya.PenutupSebagai subkultur, pesantren memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan. Pesantren membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat. Tantangan zaman memang tidak dapat dihindari, tetapi perubahan tidak boleh menghilangkan identitas.Ruh tradisi harus tetap menjadi kompas, sementara inovasi menjadi kendaraan. Dengan demikian, pesantren akan terus menjadi benteng moral sekaligus pusat lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keislaman dan keindonesiaannya.

Berita Terbaru

Lihat Semua →
Thumbnail
Artikel 17 Sep 2026

Pesantren sebagai Subkultur: Antara Mempertahankan Ruh Tradisi dan Menjawab Tantangan Zaman

Oleh: Khuwaidimul Ma'had RoudlotussolihinPesantren sebagai ruang budaya dan peradabanPesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam yang memiliki posisi unik dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan yang mentransmisikan ilmu keagamaan, melainkan sebuah subkultur yang memiliki sistem nilai, tradisi, pola hubungan sosial, tata kehidupan, serta pandangan hidup yang khas. Keberadaan pesantren membentuk ekosistem sosial yang hidup, di mana pendidikan, ibadah, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat berjalan secara terpadu.Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman karena memiliki kemampuan menjaga nilai-nilai dasar sekaligus melakukan penyesuaian terhadap dinamika sosial. Ketahanan inilah yang menjadikan pesantren tetap relevan dari masa ke masa.Tantangan zaman yang semakin kompleksMemasuki era digital, kemampuan pesantren untuk mempertahankan eksistensinya kembali diuji. Perkembangan teknologi, globalisasi, perubahan ekonomi, gaya hidup masyarakat, tuntutan profesionalisme, serta meningkatnya ekspektasi terhadap mutu pendidikan telah menghadirkan tantangan baru.Dalam merespons perubahan tersebut, pesantren menempuh jalan yang beragam. Ada yang memilih mempertahankan tradisi secara ketat, ada yang melakukan modernisasi secara agresif, dan ada pula yang berusaha mencari titik keseimbangan di antara keduanya.Pesantren konservatif: keteguhan atau ketertutupan?Sebagian pesantren memilih mempertahankan pola pendidikan dan kehidupan yang diwariskan para ulama terdahulu. Tradisi dipandang sebagai identitas yang harus dijaga, mulai dari metode pengajaran, kehidupan santri, hingga hubungan erat antara kiai dan santri.Sikap ini memiliki kekuatan yang besar. Pesantren mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam, menanamkan kesederhanaan, memperkuat ukhuwah, serta membentuk karakter melalui kehidupan kolektif. Di tengah masyarakat yang semakin individualistik, nilai-nilai tersebut justru menjadi kekayaan yang tidak ternilai.Namun, persoalan muncul ketika pelestarian tradisi berubah menjadi penolakan terhadap perubahan. Dunia terus berkembang, sementara sistem pendidikan dan tata kelola pesantren tidak mengalami penyesuaian yang memadai. Akibatnya, pesantren dapat kehilangan daya respons terhadap kebutuhan masyarakat kontemporer.Karena itu, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukan seluruh bentuk masa lalu. Yang harus dijaga adalah ruh, nilai, dan tujuan pendidikan pesantren, sedangkan metode serta sarana dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman.Modernisasi dan ancaman hilangnya ruh kepesantrenanDi sisi lain, banyak pesantren melakukan transformasi melalui pembangunan fasilitas modern, penerapan manajemen profesional, digitalisasi administrasi, penguasaan bahasa asing, hingga integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kurikulum.Modernisasi pada hakikatnya bukan sesuatu yang harus ditolak. Santri masa kini membutuhkan bekal ilmu agama sekaligus kompetensi untuk menghadapi realitas sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin kompleks.Persoalan muncul ketika modernisasi tidak lagi menjadi alat, melainkan berubah menjadi tujuan. Ketika citra, kemewahan fasilitas, eksklusivitas, dan kemampuan ekonomi menjadi ukuran utama kualitas pesantren, lahirlah fenomena yang sering disebut sebagai pesantren VIP.Biaya pendidikan yang tinggi dan segmentasi berdasarkan kemampuan ekonomi berpotensi mengikis karakter pesantren yang sejak awal tumbuh bersama masyarakat. Padahal, kekuatan pesantren justru terletak pada kesederhanaan, kesetaraan, dan kehidupan bersama tanpa memandang latar belakang sosial.Menjaga keseimbangan: ruh tradisi, wajah masa depanPesantren tidak perlu memilih antara menjadi tradisional atau modern secara ekstrem. Yang dibutuhkan adalah transformasi yang berakar pada nilai. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dakwah, administrasi, dan pembelajaran. Manajemen profesional dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Fasilitas yang baik dapat menunjang kenyamanan santri.Namun, seluruh pembaruan tersebut harus tetap berpijak pada ruh kepesantrenan: keikhlasan, adab, tawadhu', kesederhanaan, ukhuwah, dan keberkahan ilmu. Sebab yang menjadikan pesantren berbeda bukan semata bangunannya, melainkan budaya yang hidup di dalamnya.PenutupSebagai subkultur, pesantren memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan. Pesantren membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat. Tantangan zaman memang tidak dapat dihindari, tetapi perubahan tidak boleh menghilangkan identitas.Ruh tradisi harus tetap menjadi kompas, sementara inovasi menjadi kendaraan. Dengan demikian, pesantren akan terus menjadi benteng moral sekaligus pusat lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keislaman dan keindonesiaannya.

Ditulis oleh: Ust. M. Yusuf Zakaria
Thumbnail
Artikel 15 Sep 2026

Pesantren Saat Ini, Di Antara Persimpangan Modernitas dan Gaya Hidup

Penulis: khuwaidimul ma'hadPesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam membentuk karakter, moral, dan keilmuan masyarakat Indonesia. Dari masa ke masa, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih, akhlak, dan berbagai disiplin ilmu keislaman,tetapi juga menjadi ruang pembentukan kepribadian dan kehidupan sosial. Karena pesantren sendiri sebetulnya adalah lembaga yang terbentuk secara organik dalam melanjutkan misi Rosululloh SAW,إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ"Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak."Namun, pesantren hari ini berada di tengah perubahan zaman yang niscaya dan begitu cepat. Perkembangan teknologi, media sosial, budaya populer, dan perubahan gaya hidup masyarakat memberikan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pesantren. Pesantren dituntut untuk tetap menjaga nilai-nilai tradisi, tetapi pada saat yang sama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.Pesantren di Tengah Perubahan ZamanDahulu dan sekarang, seharusnya kehidupan pesantren identik dengan kesederhanaan. Santri terbiasa hidup bersama dalam keterbatasan, makan seadanya, mengenakan pakaian sederhana, dan menjalani rutinitas yang penuh dengan belajar, ibadah, mengaji, serta pengabdian.Namun kini, wajah pesantren mulai mengalami perubahan. Banyak pesantren telah memiliki fasilitas pendidikan yang lebih lengkap, akses internet, laboratorium, perpustakaan modern, bahkan berbagai program keterampilan dan pendidikan formal.Perubahan tersebut pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif selama tidak menghilangkan ruh dan nilai utama pesantren, yaitu kesederhanaan.Sekarang, persoalannya bukan pada apakah pesantren boleh menjadi modern atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana modernisasi tersebut tetap berjalan di bawah kendali nilai-nilai agama dan akhlak.Kemajuan fasilitas tidak seharusnya menjadikan manusia kehilangan kesederhanaan. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperluas manfaat ilmu, bukan menjadi pintu masuk bagi gaya hidup berlebihan.Pesantren harus tetap menjadi lembaga pengendali nilai dalam mengawal kesederhanaan dalam segala hal. Pesantren harus tetap pada rel mengajarkan, mengamalkan hidup sederhana guna menata sikap santri menjadi santri yang tidak mudah goyah oleh keinginan hawa nafsu. Imam Ghozali dalam Ihya-nya mengatakan,فَإِنْ لَمْ يُعَوِّدْهَا الِاقْتِصَادَ عَلَى قَدْرِ الضَّرُورَةِ مِنَ الشَّهَوَاتِ غَلَبَتْهُ"Jika ia tidak membiasakan nafsunya untuk hidup sederhana sesuai kadar keharusan dari keinginan syahwatnya, maka nafsunyalah yang menguasainya."Jadi, pesantren tetap mengajarkan hidup qana'ah, kebersamaan, dan ketakwaan dalam bingkai modern.

Ditulis oleh: MIFTAH FAUZI
Thumbnail
Kisah Inspiratif 10 Sep 2026

Lentera Kedisiplinan dan Keistiqomahan: Mengenal Lebih Dekat Teladan KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi., M.Hi.

Di balik berkembang pesatnya Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren (YPPP) Roudlotussolihin di Bumirestu, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, terdapat sosok karismatik yang menjadi jantung penggerak kedisiplinan lembaga tersebut. Beliau adalah KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi., M.Hi., seorang pengasuh dan pendiri pesantren yang dikenal bukan hanya melalui lisan, melainkan lewat keteladanan nyata dalam setiap langkah hidupnya.Disiplin Waktu sebagai Fondasi UtamaBagi Kiai Soleh Bajuri, kedisiplinan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan yang melekat pada diri seorang mukmin dan penuntut ilmu. Dalam kesehariannya, beliau adalah sosok yang sangat menghargai waktu. Jadwal pengajian, shalat berjamaah tepat waktu, hingga pelayanan terhadap umat dan santri diatur dengan presisi yang tinggi.Ketegasan dan kedisiplinan ini bukanlah bentuk kekakuan, melainkan wujud kasih sayang seorang guru agar para santrinya terlatih memiliki mental yang tangguh, terstruktur, dan tidak menyia-nyiakan waktu muda mereka. Pesan-pesan beliau seperti filosofi AKIK (Aktif, Kreatif, Inovatif, Komunikatif) serta penekanan pada kewajiban jamaah dan ngaji yang istiqomah lahir dari kesadaran mendalam bahwa kesuksesan dunia dan akhirat hanya bisa diraih oleh mereka yang disiplin menjaga komitmen.Keistiqomahan yang MenjiwaiDisiplin tanpa keistiqomahan (konsistensi) ibarat bangunan tanpa semen pengikat. Kiai Soleh Bajuri mengajarkan dan mencerminkan arti istiqomah yang sesungguhnya. Dalam membimbing santri, mengurus yayasan, dan merawat umat, beliau menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa tidak mudah goyah oleh rintangan dan terus berjalan di atas jalur kebaikan tanpa kenal lelah.Prinsip hidup beliau sejalan dengan apa yang sering beliau pesankan kepada para santrinya: bahwa kunci utama keselamatan dan keberkahan hidup terletak pada konsistensi dalam beribadah dan mencari ilmu. Sikap istiqomah inilah yang kemudian menular dan menjadi ruh (jiwa) di lingkungan Pondok Pesantren Roudlotussolihin.Warisan KeteladananMelalui keteladanan disiplin dan keistiqomahan yang ditunjukkan setiap hari, KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi., M.Hi. telah berhasil mencetak ribuan santri yang tidak hanya matang secara ilmu agama, tetapi juga memiliki karakter kerja keras, mental baja, serta akhlakul karimah. Beliau adalah figur kiai panutan cermin hidup dari nilai-nilai luhur Islam yang mendisiplinkan diri demi menggapai rida Illahi.

Ditulis oleh: MIFTAH FAUZI
Thumbnail
Artikel 10 Sep 2026

6 Karakter Utama Santri YPPP Roudlotussolihin

Berdasarkan arahan dari KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi, M.Hi. (Pendiri dan Pembina YPPP Roudlotussolihin, Bumirestu, Palas, Lampung Selatan), pembentukan kepribadian santri berlandaskan pada enam pilar karakter mulia berikut:Sungguh-sungguh untuk menghilangkan kebodohan  Memiliki semangat juang tinggi dalam menuntut ilmu dan menghapus ketidaktahuan.Amal sholeh setiap saat  Senantiasa konsisten melakukan kebaikan dan amal bermanfaat dalam keseharian.Niat ikhlas setiap amal  Melandasi segala perbuatan semata-mata karena Allah SWT, bukan karena orientasi duniawi.Tawakal & tabah  Berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah ikhtiar maksimal, serta tahan uji dalam menghadapi ujian.Ridho atas takdir  Lapang dada dan ikhlas menerima segala ketentuan yang diberikan oleh Allah SWT.Istiqomah & teguh Konsisten dalam jalan kebaikan dan pendirian yang kokoh tanpa mudah goyah.Pesan Kiai:Enam poin ini merupakan kompas spiritual dan moral bagi santri dalam menjalani kehidupan di pesantren maupun di tengah masyarakat luas.

Ditulis oleh: MIFTAH FAUZI
Thumbnail
Dawuh Masyayikh 10 Sep 2026

Filosofi "AKIK" Bekti Santri Menghadapi Zaman

Sebagai Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotussolihin, KH. RM. Soleh Bajuri, S.Hi, M.Hi., merumuskan sebuah filosofi praktis bagi para santri agar siap menghadapi tantangan zaman, yang terangkum dalam akronim AKIK:Aktif Santri tidak boleh pasif atau hanya menunggu. Harus proaktif dalam menimba ilmu, beribadah, berorganisasi, serta peka terhadap lingkungan sekitar. Kreatif Mampu berpikir out of the box dan memaksimalkan sumber daya yang ada untuk menemukan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi. Inovatif Berani melakukan pembaharuan positif, terbuka terhadap kemajuan zaman dan teknologi, serta tidak takut mencoba hal-hal baru yang bermanfaat. Komunikatif Mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan santun, mudah bergaul dengan berbagai kalangan, serta terampil menjalin relasi secara luas.Pesan (Dawuh) Kiai:"Jadilah santri yang tidak hanya pandai mengaji, tapi juga mampu menerjemahkan Islam di tengah zaman yang dinamis. Aktiflah dalam berkarya, kreatif mencari solusi, inovatif menghadapi perubahan, dan komunikatif dalam berdakwah."Melalui filosofi AKIK ini, santri diharapkan tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga memiliki daya saing tinggi dan menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi umat.

Ditulis oleh: MIFTAH FAUZI